Kel 9 (MAD2T*Pagi*04 Ogos*Tahun 1)
Keluaran 9
Penjelasan Singkat
Tulah berlanjut
Isi Pasal
Tulah penyakit sampar, barah, dan hujan es.
Judul Perikop
Tulah kelima: penyakit sampar pada ternak (9:1-7)
Tulah keenam: barah (9:8-12)
Tulah ketujuh: hujan es (9:13-35)
Tafsiran:
Mengapa orang menindas sesamanya? Karena manusia yang satu menganggap diri lebih tinggi daripada yang lainnya. Manusia menciptakan sistem kasta di antara sesamanya. Padahal Tuhan menciptakan semua manusia setara.
Mengapa Firaun berkeras tidak mau melepaskan bangsa Israel? Bagi Firaun, Israel adalah aset untuk pembangunan Mesir. Orang Israel hanyalah budak bagi orang Mesir. Oleh karena itu, walaupun sudah empat tulah dijatuhkan, Firaun tetap tidak bergeming. Maka tulah kelima, sampar yang menimpa ternak orang-orang Mesir (ayat 3,6) dan tulah keenam, barah yang menjangkiti orang Mesir dan ternaknya (ayat 9-10) diturunkan Tuhan untuk menghajar Firaun dan bangsanya. Bahkan para ahli sihirnya Firaun terkena barah itu (ayat 11). Sebaliknya, bangsa Israel dilindungi Tuhan dari malapetaka itu (ayat 4).
Firaun dalam kepercayaan bangsa Mesir dianggap sebagai anak allah (dewa Ra), namun demikian di hadapan Allah Israel, Firaun tetaplah manusia biasa. Ia adalah makhluk ciptaan Allah yang mempunyai hakikat yang sama dengan sesamanya manusia. Sikap dan perbuatan Firaun yang menganggap diri lebih daripada manusia biasa, bahkan melecehkan harkat bangsa Israel adalah sikap yang sama sekali salah. Apalagi dengan sombongnya Firaun mau melawan Allah Israel, Sang Pencipta. Upah kesombongan itu adalah kehancuran yang akan datang melalui tulah-tulah yang sudah dan yang masih akan datang.
Orang Kristen harus lebih peka menolak sikap dan perlakukan membedakan manusia menurut suku, harta, kedudukan, dllsb. Pemahaman bahwa kita diciptakan sama mulia sebagai gambar Allah perlu secara aktif kita praktikkan. Lebih daripada itu anugerah pengampunan dalam Kristus Yesus yang membuat orang mengalami pemulihan dari perbudakan dosa wajib kita saksikan.
Yang kulakukan: Mereka yang tertindas harkatnya oleh dosa adalah sesamaku. Aku harus mengasihi dan menyatakan kasih Allah kepada mereka.
Tulah demi tulah yang dijatuhkan atas Mesir bukan semata-mata dimaksudkan agar Firaun dan rakyat Mesir menderita. Kalaupun mereka jadi menderita karena datangnya tulah-tulah tersebut, bukan penderitaan itu yang menjadi tujuan akhir.
Sebelum menjatuhkan tulah yang ketujuh, Allah terlebih dahulu memerintahkan Musa dan Harun untuk memperingatkan Firaun (Keluaran 9:13-21). Sesudah itu, Tuhan mengirimkan hujan es yang sangat dahsyat (Keluaran 9:18) disertai dengan guruh (Keluaran 9:23) dan kilat (Keluaran 9:24) yang menyambar-nyambar ke bumi. Tuhan menyebutkan bahwa kedahsyatan hujan es ini belum pernah terjadi sejak Mesir dijadikan (Keluaran 9:18). Sungguh tak terbayangkan!
Kedahsyatan tulah itu dimaksudkan agar Firaun secara pribadi mengenal kedahsyatan kuasa Allah (Keluaran 9:14) dan supaya seluruh dunia mengetahuinya juga (Keluaran 9:16; bdk. Rm. 9:17). Namun pertobatan Firaun begitu dangkal. Ia memang mengetahui kesalahan dan kecurangan yang dia lakukan, tetapi ia tetap tidak mau bertobat (Keluaran 9:27). Ia belum mau percaya sepenuhnya bahwa Allah itu berkuasa dan berdaulat (Keluaran 9:29). Takut akan Allah berarti tunduk dalam penyerahan kepada Dia, yang berkuasa atas alam semesta (Keluaran 9:30).
Mengetahui tentang Allah dan mengalami kuasa-Nya ternyata tidak serta merta membuat Firaun membuka mata dan hatinya untuk segera bertobat. Bahkan mengalami sendiri penyataan kuat kuasa tangan Allah tidak membuat Firaun beranjak dari kedegilannya. Ia tetap mengeraskan hati dan tidak mau berubah sikap. Jadi yang penting dari sebuah pertobatan bukanlah pengalaman atau pertemuan orang orang dengan Allah, melainkan adanya kemauan orang untuk bertobat.
Kisah Firaun yang mengeraskan hati menjadi peringatan bagi kita, jika kita tahu bahwa Allah itu benar dan berkuasa, tetapi kita tak kunjung meninggalkan dosa maka kita patut waspada. Jangan sampai Tuhan menunjukkan kuasa-Nya yang lebih besar lagi kepada kita. Karena jika demikian, bisa-bisa kita celaka. Sebelum itu terjadi, lebih baik kita mengakui segala dosa kita dan memohon pengampunan-Nya.